24
JAN
2020

RAHMAT ALLAH BAGI SETIAP MAKHLUK-NYA

Allah mempunyai sifat Rahmat, Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm memiliki arti dasar ‘kelembutan, kehalusan dan kasih sayang’. Sedangkan menurut al-Ashfihani dalam Mufradât Alfâdzh al-Qur’an, kata rahmat berarti ‘kelembutan yang menuntut berbuat baik kepada yang disayangi’. Terkadang rahmat hanya khusus berarti ‘kelembutan’. Kadang juga hanya berarti ‘berbuat baik’.

Pada dasarnya rahmat (kasih sayang) itu berasal dari Tuhan Maha Pengasih Penyayang (al-Rahmân al-Rahim). Allah adalah sumber rahmat (kasih sayang) yang tersebar di alam semesta ini. Allah mewajibkan bagi diri-Nya sendiri sifat rahmat (kasih sayang). Allah berfirman dalam Surat Al-Anʻam:12, yang artinya :”Katakanlah (Muhammad), “Milik siapakah apa yang ada di langit dan di bumi ?” Katakanlah, “Milik Allah.” Dia telah menetapkan (sifat) kasih saying pada diri-Nya. Dia sungguh akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak diragukan lagi. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman.”  

Dalam Shahîh al-Bukhârî melalui jalur Abu Hurairah, Nabi Besar Muhammad pernah menyatakan, Pada hari penciptaannya, Allah menciptakan 100 (seratus) rahmat (kasih sayang). 99 rahmat (kasih sayang) masih dipegang oleh Allah swt untuk disimpan. Hanya satu rahmat saja yang disebarkan oleh Allah bagi seluruh makhluknya.

Sementara menurut Shahîh Muslim dari Salman al-Farisi, satu rahmat itu disebar di muka bumi sehingga cukup bagi seorang ibu menyayangi anaknya dan semua makhluk baik manusia, burung, semua jenis hewan dan jin dapat mengasihi satu sama lain. Lalu 99 rahmat sengaja ditahan oleh Allah swt untuk memberi rahmat bagi seluruh hamba-Nya pada hari kiamat.

Ada satu kisah yang meceritakan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya  Diceritakan dari Dzin Nun al-Mishri r.a., beliau berkata:

Suatu hari aku berjalan di tepi sungai Nil, tiba-tiba aku melihat seekor kalajengking darat (ketonggeng : Jawa) sedang merayap. Kemudian aku mengambil batu untuk membunuhnya, namun ia lari dengan cepat. Aku berhenti di pinggir sungai Nil, tiba-tiba ada seekor katak muncul ke permukaan air, lalu kalajengking itu melompat di atas punggungnya. Katak itu kemudian berenang membawa kalajengking sampai ke tepi seberang sungai.

Ketika katak itu sampai di daratan, kalajengking turun dari punggungnya dan lari. Aku mengikuti di belakangnya. Ternyata kalajengking itu menuju suatu tempat yang disitu ada seorang laki-laki yang tidur dalam keadaan mabuk, sedang di depannya ada seekor ular berbisa yang akan mematuknya. Maka kalajengking itu pun lari dengan cepat seraya melompat di kepala ular dan menyengatnya dengan sekali sengatan. Dan ular itu pun mati seketika.

Kemudian aku membangunkan laki-laki itu dari tidurnya, ia pun bangkit, terperanjat ketakutan. Saat ia melihat seekor ular, ia berpaling dan lari. Lalu aku bertanya kepadanya: “Jangan takut, kamu aman dari bahayanya!” Aku pun menceritakan kisah kejadiannya.

Laki-laki itu menundukkan kepalanya, lalu mengangkat ke arah langit dan berkata: “Wahai Tuhanku, seperti ini Engkau lakukan kepada orang yang durhaka kepada-Mu, maka bagaimana perlakuan-Mu kepada orang yang taat kepada-Mu. Demi kemuliaan dan keagungan-Mu, aku tidak akan durhaka kepada-Mu setelah ini selamanya.”

Kemudian laki-laki itu berpaling seraya menangis dan mengucapkan syair:

~ Wahai orang yang tidur, sedang Allab Yang Maha Agung menjaganya, dari segala bahaya buruk yang merayap di dalam kegelapan.

~ Bagaimana mata dapat tidur dari seorang Raja (Allah), yang segala kenikmatan-Nya yang mulia telah datang darimu.

Dari kisah ini kita dapat memetik banyak hikmah atau pelajaran, yang dimana dengan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, Allah selamatkan hamba itu dari kematian dan memberikan kesempatan kepadanya untuk bertaubat dan menjalani hidup lagi.

Oleh karna itu kami mengajak kepada pembaca yang budiman, untuk selalu bersyukur atas segala ikmat yang Allah berikan kepada kita, serta tetap selalu istiqomah dalam kebaikan karna kasih sayang Allah begitu besar kepada hamba-Nya yang berbuat dosa, apalagi jika kita selalu berbuat kebaikan dan meninggalkan dosa ?

Wakhidia Rahmatu A

Leave a Reply

*

captcha *